11/11/2011

RIA & DAN MARSALA

Aku dan Dan Marsala "Vokalis Story of The Year"
        Halo. Akhirnya Mbak Ike ngirim foto aku barengan Dan Marsala. Betapa lebarnya senyumku di foto itu! Dan kenapa aku megang botol Aqua isi Nutri Sari? Hahhh, jadi malu kalau lihat foto ini. Ntah apa yang aku pikirin waktu foto sama Dan. Seperti yang aku ceritain di bawah tentang konser Story of The Year (SOTY), kami sempet bingung, itu Dan apa bukan. Berkat tekad dan keberanian, tambah KEPEDEAN, aku manggil nama "DAN" dan doi noleh. Oh Tuhan, dia sungguh DAN MARSALA. Kenalan, ngobrol lama banget, fotoan, berpelukan, ngobrol lagi, dan akhirnya berpisah. KEREN!!! Nggak sia-sia dari Bandung jam 6 pagi, sampai di venue terus ketemu Mbak Ike cs jam 12. Pelajaran: Datanglah lebih pagi sebelum rejeki dipatok ayam. HAHAHA. Beberapa hari setelah konser SOTY, aku ngecek Myspace Dan Marsala dan baca biodatanya. Di bagian "Who I'd like to meet" ditulis "THE FANS". Pantesan doi betah ngobrol lama dan ramah banget sama kami. Thanks, Dan Marsala. Thanks, Mbak Ike dan Rosma. Terima kasih, Indonesia.

10/12/2011

Story of The Year "The Constant Indonesian Tour 2011"

Dan Marsala, vokalis Story of The Year

Ada Russell, bassis Story of The Year. Gila, KEREN banget aslinya!

Seperti biasa, barisan depan bersama @ikeyuniar dan @rosmarosma

Philip Sneed & Dan Marsala of SOTY

Dan Marsala. Orangnya ramah, sempat foto bareng & ngobrol lama di backstage.
Maaf kalau abang ini lagi. Still ganteng dan keren ya, Bang.

       Bukan kegiatan nonton konser yang pertama atau yang terakhir. Entah kenapa, hobi ini selalu menyenangkan dan mengesankan. Ada saja cerita yang terselip di dalamnya. Setiap orang punya ceritanya masing-masing tidak pernah sama setiap hari. Saat itu, 6 Oktober 2011, bersama @rosmarosma, kami berangkat ke Plaza Selatan Senanyan untuk nonton konser Story of The Year. Harga tiketnya murah, 150 ribu rupiah untuk presale 2, sedangkan presale 1 seharga 100 ribu rupiah dan on the spot seharga 200 ribu rupiah. Murah, kan? Sudah janjian sebelumnya dengan Mbak @ikeyuniar dan suaminya @aryasnugraha. Oh, si mbak bawa satu karyawannya, Redo. 
          Datanglah lebih awal supaya rezekimu nggak dipatok ayam. Peribahasa lawas tapi manjur sekali. Venue konser belum ada antrian penonton. Intinya: baru kami berlima saja yang sudah nangkring di depan venue. Hehehe. Karena lokasinya outdoor dan backstagenya nggak begitu terjaga ketat, aku, @rosmarosma, dan @ikeyuniar menerobos masuk ke backstage, yang pada saat itu rombongan SOTY baru datang untuk soundcheck. Berlagak polos, kami memperhatikan semua personel SOTY sambil mencocokkan wajahnya dengan wajah di wallpaper Blackberry-ku. Kejadiannya lucu banget karena ternyata wajah di foto dan asli itu berbeda! HAHAHA #nilaimoral. Kalau ingat kejadian, aku jadi tertawa sendiri. Nggak ada yang berani manggil mereka karena takut salah sapa. 'Kan malu, jack. HAHAHA.
         Singkat cerita, kami berhasil foto bareng, peluk, dan ngobrol lama dengan Dan Marsala, vokalis SOTY! Orangnya ramah banget. Waktu doi keluar dari tenda backstage, kami cuma bisa melongo, dan dengan PD-nya aku manggil doi, "Hey Dan." WOOHOO!!!!! Berhasilllll!!!!!!!!!!! Dan konsernya bagaimana? KEREN!!!!!!!!!

9/29/2011

Selamanya...

Pak Dwi : "Ria, mana film-filmnya?"
Aku : "Udah aku pindahin tuh. Cek aja!"
Pak Dwi: "Judulnya?"
Aku : "Flipped sama Waiting For Forever. Bagus loh. Sarat nilai moral, Pak."
Pak Dwi : "Gayamu (tertawa). Tentang apaan gitu?"
Aku : "Tentang orang yang menyukai seseorang sejak dia kecil. Dia berjuang terus. Tapi maknanya tersirat, Pak. Tonton deh. Yang Flipped itu tentang cewek yang naksir cowok sejak masih kecil tp di sisi lain dia ragu. Kalo menurut aku sih itu film kayak perumpamaan tentang sesuatu gitu. Perasaannya dilihat dari dua pihak. Kalo yang Waiting For Forever itu tentang cowok yang naksir cewek sejak kecil juga, dia ikutin terus tuh  cewek ke mana pun dia pergi. Tapi ingat, Pak, maknanya tersirat."
Pak Dwi : "Halah, itu kan yang cewek-cewek pengen, naksir dari kecil." (Ketawa)
Aku : "Wuuuuuuuuuu"

Kira-kira begitu potongan percakapan aku dengan Pak Dwi, teman sekantorku yang posisi ruangannya tepat di depanku dan selalu gawe rusuh, hehehe.
Apa benar itu yang diinginkan semua cewek? Naksir dari kecil terus akhirnya terwujud waktu sudah dewasa? Benar? Sebagai wanita tulen, aku ngerasa itu benar. Menurutmu? Aku belum bisa menemukan alasan yang tepat karena pandangan wanita dan laki-laki itu sangat pasti berbeda. Dan sifat setiap wanita itu berbeda-beda. Tapi satu yang pasti, hampir semua wanita mendewakan cinta pertama. Ciao.

8/24/2011

Mengapa Harus Nonton Waiting For Forever?

Pinggiran kota, cuaca cerah malah terkesan panas, Will Donner, pesulap jalanan dengan pakaian piyama khas dirinya, menyetop setiap mobil yang lewat di depannya untuk diberikan tumpangan sampai ke kampung halamannya di Pennsylvania. Will memang harus berjuang keras dengan acungan jempolnya melawan debu yang terbang karena setiap mobil hanya melewatinya. "Tidak masalah," mungkin kata Will. Ia berjalan terus. Ditemani angin siang itu, ia terhenti dan memejamkan mata, "EMMA," ucapnya. Dibuka matanya, dan.......
 Oh my God, he's SO CUTE!!!!!!!! 
Oke, cukup dengan teaser pengenalan film Waiting For Forever. Kamu mungkin tanya, siapa Emma? Emma itu cewek yang sedang nulis tulisan di blog ini alias Apriani Ribkah Sihaloho. Kamu harus percaya, karena kalau bukan percaya padaku, pada siapa lagi? Aku sudahi omong kosong ini. HAHAHA. Emma, Emma Twist (Rachel Bilson), adalah teman kecil Will. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama karena satu, mereka satu sekolah. Dua, walaupun rumah mereka tidak saling berdekatan, mereka kerap bermain bersama sepanjang hari. Kebersamaan pun harus berakhir karena orang tua Will meninggal, dan karenanya dia dan kakaknya, Jim, harus pindah kota untuk tinggal bersama paman dan bibi mereka. Will mencintai Emma sejak kanak-kanak. Setelah dewasa, Will mengikuti Emma ke manapun wanita itu tinggal. Ya, ke manapun. Dia seperti hidup dalam mimpi. Bersama Emma selamanya, walaupun dia tidak menyapa atau mengobrol. Yang terpenting, dia melihat dan berada di dekat Emma. Itu saja.

Aneh? Iya!!!! Inilah yang dinamakan stalking atau mengintai.
Rasa cinta seperti apa yang dirasakan Will Donner sampai dia berbuat hal bodoh ini? Siapa yang tahu!

Akan menjadi aneh kalau aku menceritakan semua yang bisa aku tangkap tentang film ini. Yang sebaiknya kamu lakukan adalah pergi ke tempat rental DVD atau ke toko DVD dan rental/belilah DVD Waiting For Forever. Mengapa aku terkesan memaksa kamu untuk menonton film ini? 

1. Soundtrack film ini bagus sekali. Aku ndak tahu apakah ini hanya pendapatku saja. Pengisi musik yang paling dominan adalah The Mostar Diving Club dengan lagu-lagunya seperti Worlds Apart dan Worlds Collide. Musik doi ini seakan membawaku ke semua impianku, melayang. Jenis musiknya jauh dari jenis musik kebanyakan. Rasanya, musik yang diusung di film drama romantis ini menjadikannya benar-benar romantis. Bisakah kamu merasakannya?

2. Ide cerita dibawa ke alur yang ndak membosankan. Jujur, ide cerita seperti ini memang sudah banyak, tapi untuk film ini, alurnya berbeda. Rasanya tidak bosan menonton karena ada banyak kejutan di dalamnya.

3. Apalagi kalau bukan kualitas acting para selebritas. Tidak peduli peran utama, peran pembantu, atau pelengkap, semua dibungkus apik.
4. GAYA PAKAIAN 2 peran utama yang kece.

5. Ini semua tentang impian dan keyakinan. Ide cerita diutarakan lewat kalimat-kalimat penuh makna, baik secara langsung atau tidak langsung. Will berimpian hidup bersama selamanya bersama Emma, karena itu dia selalu mengikuti ke manapun wanita itu tinggal. Dia yakin suatu saat dia bisa menikahi Emma. Walaupun sempat undur dan mengakui kalau yang dia lakukan selama ini adalah bodoh, Will tetap yakin kalau apa yang dianggap benar itu akan terjadi.
Emma, kebenaran itu tidak penting. Menyakini yang kau anggap benar itu yang terpenting
Itu baru satu contoh. Tontonlah, maka kamu akan menemui banyak kalimat seperti itu. Indah.

6. Aku sadar, aku harus menaruh alasan ini di poin terakhir. Tom Sturridge, pemeran Will Donner, manis sekali. Wajahnya seperti orang Eropa kebanyakan, tapi entah mengapa, dia manis sekali. Aku ndak bisa ndak menggigit selimut saat Tom tersenyum. Seriously, HE'S REALLY FUCKING CUTE GUY!!!! Dan dia mirip dengan Elloi Youssef. Oke, selesai dengan topik Tom karena aku akan mulai menyakiti diri dengan cara menjedukkan kepala ke CPU. 

Lengkap sudah! Film ini benar-benar menyentuh hatiku. Selamat menonton, Ciao.

Tom Sturridge di film Waiting for Forever


Tom Sturridge di red carpet



Sampul Waiting For Forever


8/23/2011

Pandangan Terbodoh Tentang 'Memuji Seseorang'

Hello people,
malas merasuki jiwa dan errrrrrrrr aku ingin segera 'cabut' dari tempat ini. Mulai bosan, merasa terhakimi, dan paling buruk dari yang terburuk. Oh tidak!!!! Memalukan! Tapi benar deh, kenapa orang-orang, sebentar, sebagian orang maksudku, mengganggap aku orang paling tolol dan ndak berguna? Atau mungkin ini hanya pikiranku saja? Ah, tapi sepertinya bener deh. Mbingungi! Lupakan. Beralih topik ah, sebelum aku tambah terlihat super super bodoh. Errrrrrrr.
Menurut aku sebagai orang paling bodoh sedunia, (oh Tuhan, lagi?) ada empat tipe orang berdasarkan cara orang memuji. Heh, jangan anggap serius ya, karena aku kan orang terbodoh. Anggap aja ini kutil. (Kutil: kecil tapi mengganggu dan harus dibuang.) HAHAHA Sangat menyimpang. 

Pertama, orang yang memuji langsung karena dia terbiasa memuji dan pujiannya jujur. Tipe orang seperti ini sangat jarang. Kenapa? Karena kebanyakan orang suka dipuji saja, ya ndak peduli itu jujur apa bohong untuk menyenangkan hati seseorang. Tipe orang seperti ini juga luwes dalam bergaul, jauh dari rasa dengki dan iri karena doi menyadari setiap orang memiliki kelebihan dan keahlian. Contoh: si A baru membuat baju hasil karyanya sendiri. Si B melihat dan terkagum-kagum, lalu berkata, "Gila, bagus banget baju lo. Kreatif banget lo. Ajarin gw dong cara buatnya." Respons si A, "Tengkyu. Ntar gw ajarin deh. Mudah kok, " sambil tersipu malu. HAHAHA.

Kedua, orang yang memuji tapi tidak langsung dan pujiannya jujur. Orang tipe ini suka memuji tapi dia malu untuk memuji karena ndak terbiasa memuji. Ntah karena dia pemalu atau takut orang yang dipujinya menjadi tinggi hati dan sok merasa paling wah. Yah ndak tahu juga ya, sifat masing-masing orang kan berbeda-beda. Ini tergantung. Biasanya dia menyampaikan pujiannya untuk seseorang lewat orang lain, sehingga orang lain yang biasanya akan menyampaikan. Huh, ribet amat nih manusia, mesti lewat berapa manusia dulu baru pujian sampai. Seperti mengirim paket via TiKi saja yang harus melewati beberapa gerai. Kadang malah paket dikembalikan ke pengirim karena si penyampai paket ndak tahu alamat yang dituju (penerima). Ini sungguh pengalaman pribadi. HAHAHA.

Ketiga, orang yang sekadar memuji tapi di balik itu semua, dia ingin mengatakan kalau dia yang berkompeten di bidang yang digeluti si doi yang dipuji. Ah ribet amat kalimatnya. Tolong dimengerti deh. HAHAHA. Setelah memuji, doi akan mengatakan semua tentang dirinya (maksudnya kelebihannya). Doi akan berkomentar negatif dan memberikan masukan yang sebenarnya itu ditujukan pada dirinya sendiri. Apa? Bener loh. Aku sudah makan garam soalnya. HAHAHA. Dalam hati si doi sih sebenarnya doi kagum sama sesuatu yang dibuat orang yang berhak dapat pujian ini. Kalau kalimat sebelum kalimat ini sedikit berlebihan memang, aku harus akui. HAHAHA

Keempat, orang yang ndak suka memuji. Mau karyanya bagus kek atau jelek kek, pokoknya doi ndak suka muji. Doi cuma suka dipuji! Itu aja. Jadi jangan maksa doi buat muji deh, daripada ntar menuai perkara dan derita. HAHAHA.

Hmm, apalagi ya? Mungkin ada yang kurang (perasaanku). Tapi apa ya? Aku coba ingat dulu deh. HAHAHA. Penulis yang tidak bertanggung jawab memang seperti aku ini. Lengkap sudah, terbodoh dan tertidakbertanggungjawab (HAHAHAHAHAHAHA). Oke, nikmati hidupmu. Ciao.

8/15/2011

Aku & Eloi Youssef "Kensington'

Aku - Eloi Youssef - Hana
Ini adegan foto bareng yang paling lucu sedunia (ndak sedunia juga kali ya) HAHAHA. Ceritanya aku sama the rombongans lagi di lobi hotel mau ke venue nih. Nah, di lobi banyak ABG lagi pada riweuh foto-foto sama artis-artis yang seliwar-seliwer kayak semut di dekat toples gula (ndak keren banget nih peribahasa). Karena ada 5 cowok nan keren lagi foto-foto sama ABG depan pintu keluar hotel, aku sama Hana langsung pasang kuda-kuda. "Han, siapa tuh? kataku. "Kagak tau. Tapi kayaknya artis, ganteng dan keren soalnya," sahut Hana. "Samperin terus foto bareng yuk. Jawaban dia artis apa bukan akan kita ketahui ntar," timpalku. Dengan sok-sok kenal, aku nyelonong aja sebelum mereka pada capcus. "Hey, can we take a picture with you. Please," tanyaku pada doi. "Sure. Come on," jawab dia. Si Hana malah nyelonong duluan ngerangkul si abang ini. HEHEHE. Maksudku gini, kan kami ndak kenal sama mereka, jadi sekalian aja sama 5 abang ganteng itu. Aku langsung mengcut mereka, "No, no. We want take a picture with all of you. Can we?" kataku. "Oh," kata dia sambil noleh ke belakang ngajak temennya yang lagi sibuk foto sama para ABG lain, "Hey guys, come on." Sepertinya guys-guys itu ndak denger, SIBUK!!!!! Ya sudahlah, "Okay, no problem, just with you. Come on." Langsung beraksi dan ndak lupa aku ngasih instruksi ke dia buat bergaya jempol (gaya andalanku). Dia nurut. Karena yang memfoto kami 2 orang, kami jadi bingung mana yang nge"klik" duluan. Hasilnya ya kayak di atas tuh, mbingungi. HAHAHA. Udah selesai. Hana pergi. Tinggal aku sama doi. Kenalan ah, lumayan ganteng. "Hey, how are you? Whats ur name?" sapaku. "Hello, i'm good. My name is Eloi," jawab dia. "Hah? Hah? Who?" gaya bongek. "Eloi," jawab dia. "Oh. My name is Ria. See you. Bye." Cabut deh nyusul Hana. Eloi: BENGONG. Dalam hati dia, "Jadi nih orang kagak kenal guwe? SIALAN." 
Setelah event berlalu, aku baru tahu kalo dia adalah vokalis band dari Belanda bernama Kensington. Lumayan terkenal di negaranya. Good to know you, Eloi. You're SO CUTE!!!!!